Home » Parenting » 4 Pengaruh Orang Tua Tunggal (Single Parent) Terhadap Psikologis Anak

4 Pengaruh Orang Tua Tunggal (Single Parent) Terhadap Psikologis Anak

dampak positif dan negatif single parent, contoh kasus single parent, anak yang dibesarkan tanpa ibu, pengertian single parent, kurang kasih sayang ibu, pola asuh orang tua tunggal

Image via: Pinterest

Dampak positif dan negatif single parent pasti bisa terasa oleh anak dan orang tuanya.

Di satu sisi, anak-anak merasa lega dan bahagia. Mereka tak lagi menyaksikan pertengkaran orang tua, ibu yang menangis, ayah yang berkata kasar, dsb. Namun di sisi lain, jauh dalam hati anak, selalu ada kerinduan untuk memiliki keluarga yang ‘normal’ dan utuh.

Demikian catatan penting yang pernah dirilis oleh situs KidsHealth. Karena itu, anak dan orang tua mesti saling komunikasi. Masing-masing harus tahu, apakah semua pihak sudah move on dan bisa menerima keadaan sekarang atau belum?

Livestrong.com (06/10/15) membeberkan 4 peran utama single parent terhadap psikologis anak. Jom!

  1. Rasa Bertanggung-Jawab
single parent ibu, kata bijak untuk wanita single parent, menjadi single parent yang tangguh, perjuangan seorang single parent, motivasi untuk single parent, kisah sukses wanita single parent

Image via: Pinterest

University of Florida Extension Office menyatakan, salah-satu dampak besar ketika anak tinggal bersama orang tua tunggal. Anak tersebut biasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi. Apalagi kalau dia melihat sendiri bagaimana keras, tangguh, dan rumitnya perjuangan sang ibu atau sang ayah.

Orang tua tunggal tentu senang dengan mental tanggung-jawab sang anak. Namun sebaiknya anda juga peka dan perhatikan, apakah ada hak anak yang terenggut? Apakah waktu bermainnya terganggu? Apakah pergaulannya terusik? Dsb.

  1. Ada Tumpukan Kebencian
dampak single parent bagi perkembangan anak, artikel single parent, anak yang dibesarkan tanpa ibu, kurang kasih sayang ibu, single father

Image via: familyexpert.ru

Anak yang tumbuh dengan ‘orang tua solo’ bisa jadi memendam rasa benci terhadap banyak hal. Entah itu terhadap nasib hidupnya sendiri, terhadap kedua orang tua, salah-satu orang tua, teman-teman yang bernasib lebih baik, guru yang kurang perhatian, dsb.

Eksisnya kebencian ini memang wajar. Namun anda perlu waspada, apalagi kalau anak tidak terbuka. Jika mereka terlalu tertutup, tidak menemukan ‘tempat curhat/ konsultasi’ yang tepat, serta salah bergaul,  petaka bisa terjadi. Apalagi ketika mereka melampiaskannya pada sesuatu yang menyimpang.

Untuk itu, usahakan segala sesuatunya mesti terbuka dan komunikasikan dengan baik-baik.

  1. Sensitif dengan Konflik yang Bikin Stress
single parent yang tangguh, menjadi single parent yang tangguh, wanita single parent, perjuangan single parent, cara menjadi single mom yang baik

Image via: zoosk.com

Penulis sekaligus psikolog sosial bernama Bella DePaulo, Ph.D. pernah menyatakan, anak yang tinggal bersama single parent dalam keadaan damai itu lebih baik, ketimbang mereka yang serumah dengan orang tua lengkap namun sering bermasalah. Anak itu akan lebih baik dari segi pergaulan atau sosialisasi dan akademis.

Baca :  6 Metode Parenting Jaman Now, Siapa Tahu Harus Ditiru

Anak yang hidup di tengah keluarga konflik cenderung merasa stress dan baper. Jadinya ketika perceraian sudah terjadi dan keadaan rumah tetap bergejolak penuh problem, maka anak akan semakin tertekan. Mereka sakit hati, kecewa, kebingungan, dan marah besar.

Sebaliknya, jika perpisahan justru membuat keadaan jadi lebih tenang, maka anak pun akan berpikir sendiri. Sekali pun mereka hidup dengan pola asuh orang tua tunggal, setidaknya banyak hikmah besar yang bisa dirasakan.

  1. Hubungan Anak dan Orang Tua Tunggal Sangat Kuat
single parent laki-laki, lelaki single parent, single dad, kisah mengharukan ayah dan putrinya, cerita single father, pria single parents

Image via: money.howstuffworks.com

Universitas Florida dan berbagai penelitian lain mengemukakan hasil yang mirip; relasi anak dengan orang tua tunggal itu cenderung sangat akrab dan penuh kasih sayang.

Bagi sang anak, ibu/ ayah tunggalnya adalah pahlawan dan suri teladan. Dia akan sangat menghormati, berbakti, dan melakukan apa pun demi membuat orang tuanya bahagia serta bangga. Sementara dari kacamata orang tua, anda akan lebih fokus pada anak. Perhatian tidak akan terbelah pada pasangan, kecuali jika anda kembali dekat dengan seseorang.

Intinya… jika hubungan harmonis terus terjaga, pasti anak dan sang single parent akan saling terbuka, saling mendukung, tak terpisahkan, serta sukses besar. 4 Pengaruh Orang Tua Tunggal (Single Parent) Terhadap Psikologis Anak. #RD